Apa yang Anda lakukan?

Tunda talatah

Suatu hari, Seorang Putri dari Wangsa Syailendra, berjalan-jalan mengunjungi tempat pembuatan Candi Borobudur.

Sesampainya di tempat, Sang Putri, sebut saja namanya Putri Nur Aisyah, sesampainya di tempat pembuatan Candi, beliau melihat salah satu pekerja bermalas-malasan.
Kemudian beliau bertanya kepada pekerja itu.

Putri Nur Aisyah : Apa yang sedang anda lakukan?
Pekerja 1 : Saya sedang mengangkat batu.
Putri Nur Aisyah : Apakah anda lelah?
Pekerja 1 : Tentu saja Putri, karena batunya memang berat.

Jawaban yang sebenarnya memang benar. Putri Nur Aisyah pun bertanya kepada pekerja yang lain yang tampak kelelahan.

Putri Nur Aisyah : Apa yang sedang anda lakukan?
Pekerja 2 : Saya sedang membangun Candi Borobudur.
Putri Nur Aisyah : Apakah anda lelah?
Pekerja 2 : Tentu Putri Aisyah, namun membangun Candi ini kami bangun bersama-sama, jadi berkurang lelahnya.

Jawaban yang berbeda lagi. Sang Putri pun menghampiri ke salah satu pekerja yang terlihat tekun memahat dinding Candi.

Putri Nur Aisyah : Apa yang sedang anda lakukan?
Pekerja 3 : Saya sedang membangun sebuah peradaban. Mungkin dalam 10 tahun, 20 tahun atau paling lama 50 tahun lagi saya mati. Namun peradaban yang saya buat ini akan tetap utuh hingga beberapa puluh abad mendatang, sebagai warisan peradaban kita.

Apa yang kita lakukan saat ini mungkin terlihat biasa, namun hal ini akan menjadi warisan peradaban negeri ini. Mulailah berbuat sesuatu, wariskanlah sesuatu, atau yang paling sederhana mulailah menulis, membantu membangun peradaban.

Idiotnesia - Negeri Orang-Orang Idiot

Jalan Panjang : Diriku, Dirimu, Dirinya, dan Diri Mereka

1 Pairan

Prakata dari Saykoji : Apapun mereka bilang, tekadku takkan hilang, Jalanku masih panjang,
garis akhir yang kupandang.
(Jalan Panjang – Saykoji)

Suatu hari Abu Nawas beserta anaknya, anggap saja si Nawas, ke Pasar dengan membawa serta Keledai yang paling mereka sayangi.

Note : Secara harfiah Abu Nawas berarti Bapak dari Nawas, jadi anaknya Abu Nawas ya si Nawas kan? Serta, setahu saya Abu Nawas cuma punya satu keledai, jadi tentunya satu keledai itu mau gak mau sebagai Keledai yang sangat mereka sayangi sekaligus yang sangat mereka benci. Karena memang satu-satunya

Pertama-tama : Abu Nawas menaiki si Keledai dan si Nawas mengikuti dengan berjalan kaki secara santai. Secara keledai tidak terlalu cepat jalannya. Ketika mereka melewati sekumpulan orang, Abu Nawas diteriaki. “DASAR ORANG TUA BANGKA KEPARAT, TIDAK KASIHAN KAH KAU ANAKMU KEPAYAHAN MENGIKUTIMU YANG ENAK-ENAK MENUNGGANGI KELEDAI

Kedua : Setelah itu, mereka bergantian, Nawas naik keledai dan Abu Nawas membantu mengendalikan keledai sambil berjalan kaki. Note :Sepertinya anaknya Abu Nawas, yaitu si Nawas belum pandai naik keledai. Ketika mereka melewati sekumpulan orang yang lain, giliran si Nawas diteriaki. “ANAK MUDA DURHAKA nan CELAKA, KENAPA KAU BIARKAN ORANG TUAMU BERJALAN KAKI, MENUNTUN KELEDAI YANG ENAK-ENAK KAU TUNGGANGI

Ketiga : Kemudian, Abu Nawas dan Nawas memutuskan untuk tidak menunggangi keledainya, dengan mulai kepayahan mereka menuntun keledai kesayangan mereka. Ketika mereka melewati sekumpulan orang yang lain lagi. Mereka berdua kompak diteriaki. “TOLOL BENAR KALIAN BERDUA, ADA KELEDAI TIDAK DIMANFAATKAN UNTUK DITUNGGANGI.”

Keempat : Setelah dimaki-maki orang kesekian kalinya, Abu Nawas mengajak anaknya untuk sama-sama menunggangi Keledai itu. Namun mereka tetap dimaki-maki ketika mereka melewati sekumpulan orang lagi. “DASAR AYAH DAN ANAK SAMA SAJA, TIDAK BER PERI-KEHEWANAN SEDIKITPUN, TIDAK KASIHAN KAH KALIAN KELEDAI SEKECIL ITU KALIAN TUNGGANGI BERDUA

Note : Keledai memang hewan yang memiliki kemampuan angkut yang luar biasa, jadi memang mingkin Abu Nawas dan anaknya sama-sama naik keledai itu

Kelima : Silahkan tebak apa yang dilakukan Abu Nawas terhadap keledainya kali ini.

Pesan Moral dari Cerita ini, Silahkan tebak sendiri.

Tribute to : Salah satu teman lama yang mengalami hal yang dulu kurasakan.