REPUBLIK IDIOTNESIA » Uncategorized » Runtuhnya Ritel CD Raksasa Tanah Air
Runtuhnya Ritel CD Raksasa Tanah Air
INILAH.COM, Jakarta – Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita penutupan salah satu ritel CD terbesar di Indonesia. Ritel yang bernama Aquarius yang terletak dikawasan Pondok Indah tersebut, akhirnya menyerah pada keadaan dan segera ditutup untuk selamanya pada September mendatang.
Padahal ritel CD Aquarius Pondok Indah ini merupakan retail terbesar milik salah satu label raksasa nasional Aquarius Musikindo yang telah dibuka sejak awal 1995. Kondisi ini sangat ironis mengingat pada era 90-an, retail ini tidak pernah sepi pengunjung. Berbagai kaset dan CD dari berbagai macam genre musik pun bisa didapatkan di toko tersebut. Bahkan ritel Aquarius bisa dibilang menjadi semacam ikon dan barometer bagi kebangkitan industri musik saat itu. “Karena penjualan fisik rekaman yang terus menurun dan operational cost yang tinggi akhirnya kami memutuskan untuk menutup toko ini,” jelas Yosef, general manager Aquarius Musikindo.
Ritel CD Aquarius Pondok Indah bukanlah ritel yang pertama yang gulung tikar. Ratusan ritel kaset dan CD di Indonesia telah tutup selama dua tahun terakhir ini. Salah satunya bahkan sebuah toko yang telah puluhan tahun beroperasi dan menjadi ikon Bandung sebagai kota barometer musik yaitu Aquarius yang terletak di Jalan Dago. Sejak Desember 2009, Aquarius Dago resmi ditutup. Kondisi terpuruk itu tidak hanya dialami Aquarius. Beberapa ritel kaset di mal-mal yang ada di Kota Bandung terpaksa gulung tikar. Menurut Meidi Ferialdi, Marketing Manager Aquarius Musikindo, semakin tingginya harga sewa tempat di sana membuat pihaknya tidak bisa berkompromi lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya. Ia menjanjikan toko Aquarius akan dibuka kembali di Bandung di tempat yang berbeda, entah kapan tepatnya. Kemerosotan penjualan musik dalam kemasan berbentuk fisik terjadi tidak saja di Indonesia.
Perusahaan rekaman seperti Sony BMG atau Universal pun mengalami kemerosotan sales. Bahkan ritel kaset dan CD internasional sekelas Virgin atau Tower record pun ambruk secara drastis. Saat ini toko musik yang menjual kaset dan CD mendapat tekanan keras dari toko musik digital yang ada di internet (sebetulnya kata toko musik digital ini sedikit tidak tepat karena CD juga sudah dalam format digital). Mereka akhirnya harus menutup tokonya. Memang sangat disayangkan, karena sebetulnya tidak harus menutup tokonya, karena mereka akan tetap dibutuhkan dengan format yang berbeda. Gelombang besar memang telah terjadi dalam dunia musik. Di Indonesia dimulai sejak pertengahan 90-an dengan lahirnya raksasa-raksasa pembajak. Lalu lonjakan besarnya terjadi pada 2000 ketika era penjualan musik diambil alih oleh sistem Ring Back Tone (RBT). Sejak itu penjualan kaset dan CD merosot drastis. Sebelumnya pada 2009 lalu, PT Aquarius Musikindo telah terlebih dahulu menyetop produksi-produksi mereka dalam bentuk kaset. Setelah ringback tone, giliran bisnis full track download menjadi harapan baru industri musik.
Inilah satu-satunya jenis musik digital yang dapat menjadi tambang uang di negeri ini. Bayangkan, sepanjang 2009 keuntungan yang berhasil diraih industri telekomunikasi dan industri musik dari ringback tone terbilang sukses, diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,5 triliun. Masa keemasan penjualan album fisik di Indonesia secara resmi hampir ditutup. Awal dekade baru ini merupakan salah satu yang paling buruk dalam sejarah industri rekaman di Tanah Air.
Tercatat hanya sekitar 10 juta keping album legal yang terjual di Indonesia sepanjang 2008, seperti terungkap dari data ASIRI(Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). Padahal tahun sebelumnya masih mencatat penjualan 19,4 juta keping dan 2006 sebesar 23,7 juta keping. Penjualan tahun lalu yang belum dirilis ASIRI hingga kini diperkirakan juga mengalami penurunan sekitar 10%-15%. Sebaliknya, angka pembajakan musik fisik di Indonesia justru meningkat gila-gilaan. Jika di 1996 ASIRI mencatat 20 juta keping album bajakan beredar, dua belas tahun kemudian atau di 2008 jumlahnya membengkak fantastis hingga 550 juta keping! Rasio peredaran album musik bajakan dan legal di 2007 bahkan telah mencapai 96%:4%, angka ini disinyalir akan terus bertambah di tahun ini.
Label-label rekaman yang tergabung dalam ASIRI pun mengalami nasib yang sama yaitu tutup. Kondisi ini semakin diperparah oleh lepas tangannya pemerintah dalam upaya penyelamatan industri musik dari ancaman keruntuhan ini. Padahal ketika mencanangkan 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sempat berkata bahwa industri musik merupakan industri ekonomi kreatif yang mencatat angka pertumbuhan tercepat di antara jenis industri lainnya, sekitar 18-22%. [mdr]
Sumber : http://artis.inilah.com/news/read/2010/08/23/763921/runtuhnya-ritel-cd-raksasa-tanah-air/
Kategori : Uncategorized









Ini namanya kemenangan media internet, atau kebobrokan internet y kang ==a
Ini namanya kemajuan teknologi…yg jelas kita harus selalu siap menghadapi setiap pembaharuan.suatu saat media internet juga pasti akan tergantikan.