REPUBLIK IDIOTNESIA » Uncategorized » Komodo, Merana di Tengah Hiruk Pikuk Pesta Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010
Komodo, Merana di Tengah Hiruk Pikuk Pesta Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010

Mobil Off Road Utility Car Komodo
Bendera merah putih ukuran 30 X 40 centimeter itu masih terikat kuat di sebuah tiang yang mirip antena di bagian belakang mobil off road yang dinamai Komodo itu. Warnanya pun sudah tak secerah kala bendera masih baru. Warna merahnya sedikit kabur termakan cuaca, begitu pun dengan bagian putih.
“Tapi kami sangat bangga dengan keberadaan bendera itu. Itulah penanda jati diri bahwa ini benar-benar karya anak negeri asli Indonesia,” tutur Ibnu Susilo, Presiden Direktur PT FIN Komodo Teknologi, saat di temui Tempo di koridor Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Senin (26/7).
Hanya penempatan mobil karya bangsa Indonesia itu sangat kontras dengan suasana hiruk pikuk pesta pameran otomotif , Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010. Letaknya persis di koridor dari pintu masuk utama yang menuju hall C dan tak jauh dari toilet.
“Sebenarnya ada beberapa mobil buatan asli Indonesia yang diundang ke sini dan ditempatkan di di dalam hall C, termasuk kami Fin Komodo. Namun posisinya nyaris tidak terlihat oleh pengunjung,” kata Ibnu.
Memang, kehadiran mereka diundang oleh panitia untuk ikut berpartisipasi dalam perhelatan pameran otomotif itu. Ibnu mengaku kehadiran mereka memang tidak dipungut biaya.
“Tetapi ini sangat ironi dengan apa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah, bahwa kita ingin membangun industri dalam negeri, dan membangun kemandirian bangsa. Ini sekaligus membuktikan betapa minimnya keberpihakan pemerintah terhadap karya anak negeri,” papar Giri Ramanda, Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Selatan kepada Tempo.
Giri yang sengaja mampir ke arena IIMS 2010 itu, mengaku terkejut dengan keberadaan mobil asli buatan anak negeri yang berada di luar ruangan. Awalnya, ia menyangka mobil tersebut adalah mobil untuk penujang kegiatan panitia. Namun saat mendekat dan mengetahui bahwa itu adalah mobil nasional asli Indonesia, barulah ia mahfum.
“Setahu saya, di negara manapun saat ada pameran otomotif, produk asli dalam negeri selalu di tempatkan di lokasi yang strategis. Ini bukan persoalan membayar sewa atau tidak, tetapi persoalan komitmen dan keberpihakan terhadap industri bangsanya sendiri,” tegas Giri.
Seorang pengunjung lain, yang tak disebut namanya berpendapat senada. Menurut pria yang berprofesi sebagai pengajar fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi ternama di kawasan Depok, Jawa Barat itu fakta itu merupakan bukti nyata paradigma kebijakan ekonomi yang berpihak ke pasar.
“Jadi bukan hanya isapan jempol semata, kalau orang menyebut kebijakan ekonomi pemerintah sekarang adalah ekonomi hanya pemburu rente. Tak peduli bangsanya hanya jadi kuli yang penting investasi masuk, ekonomi seolah tumbuh,” papar dia.
Ia menyebut, seharusnya pemerintah justeru menempatkan karya bangsa Indonesia ini di tempat yang strategis. Meski masih dalam rupa seperti apa produk itu, namun keberadaannya haruslah menjadi kebanggan.
Lebih dari itu, kata dia, industri itu harus didukung agar berkembang. Apalagi saat ini Indonesia hanya menjadi pasar produk luar negeri. “Mereka mempekerjakan orang Indonesia sebagai buruh, keuntungan ditransfer ke negaranya dan pembentukan modal di dalam negeri tidak terjadi. Hasilnya, selamanya Indonesia hanya jadi bangsa kuli dan konsumtif,” tegasnya.
Sejatinya, bila diamati mobil Komodo yang oleh pemiliknya disebut sebagai Off Road Utility Car tidak kalah dengan mobil serupa keluaran luar negeri. Selain cocok untuk patroli di hutan, Komodo juga sangat cocok untuk misi penjelajah atau survey. “Komponennya 90 persen asli Indonesia. Bila mobil ini diproduksi secara massal, kami perkirakan akan melibatkan 120 perusahaan kecil menengah pemasok komponen,” aku Ibnu Susilo.
Mobil bermesin 250 cc empat langkah itu, mampu menghasilkan tenaga hingga 16,7 daya kuda pada 7.500 rpm, dan torsi 17,6 Newton meter pada 5.500 rpm. Kendati bermesin kecil, Komodo mampu melesat hingga 60 kilometer per jam.
“Konsumsi bahan bakarnya juga cukup irit, satu liter untuk jarak 20 kilometer,” klaim Ibnu.
Komodo juga mampu Komodo mengangkut beban hingga 250 kilogram. PT Fin Komodo selaku produsen menyematkan fitur self recovery yang memungkinkan Komodo untuk tidak terbalik kala melibas lintasan dengan gundukan atau tanjakan tinggi. “Jadi sampai saat ini belum ada yang bisa menggulingkan,” ungkap Ibnu
Selain itu tingkat kestabilan mobil ini cukup tinggi, bahkan di saat melibas medan offroad yang sangat ekstrem sekalipun. Bahkan saat melahap tanjakan setinggi satu meter. Hal itu berkat penggunaan peranti suspensi fully independent double wishbone dengan per keong pada roda belakang maupun depan. Sistem pengereman menggunakan sistem hidrolik cakram.
Komodo dirancang sendiri oleh Ibnu Susilo. Pria kelahiran lamongan Jawa Timur 29 Mei 1961 itu, sebelumnya pernah membidani lahirnya pesawat terbang N-250 Gatotkaca yang diproduksi oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Pria lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya itu pernah menjabat head design engineer saat mengerjakan proyek mobil nasional Maleo.
Kini, Ibnu dan istrinya tengah menunggui prototipe Komodo di koridor JIExpo sembari ditemani hembusan angin kering Jakarta yang cukup menyengat kulit. Namun, mereka merasa terhibur karena tak sedikit pengunjung yang menghampirinya dan menanyakan Komodo.
“Alhamdulillah itu suatu rahmat tersendiri bagi kami, karena dengan begitu kami bisa melakukan edukasi kepada masyarakat, bahwa negerinya juga mampu membuat mobil,” imbuh Ibnu.
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/modifikasi/2010/07/26/brk,20100726-266366,id.html?page=2
Kategori : Uncategorized









Setidaknya udah diikutsertakan gan T.T